Skip to content

Belajar Dari Mahapatih Gajah Mada dan Soekarno-Hatta

September 4, 2015

PAST
Sang mahapatih Gajah Mada hidup pada jaman kerajaan Majapahit kira-kira abad 14 M. Beliau memiliki cita-cita mulia ingin mepersatukan kerajaan di kepulauan Nusantara dibawah kepemimpinan Majapahit di Djawa Dwipa. Cita-cita tersebut bagi kerajaan lainnya dianggap sebagai bentuk arogansi maka tak jarang terjadi penaklukan dengan perlawanan terhadap bala prajurit Majapahit. Mahapatih Gajah Mada mengerti benar bahwa sangatlah rawan apabila Nusantara dengan beribu pulaunya tidak memiliki konsep-model suatu bangsa, sangatlah rapuh jika ada pennyerangan oleh bangsa lain di luar Nusantara.

 

Hal yang tidak dimengerti oleh kebanyakan rakyat. Konsep dan model yang dideklarasikannya yakni Sumpah Palapa “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Banyak kerajaan nusantara menganggap ini hanyalah suatu bentuk pemaksaan dan penjajahan atas tanah dan bumi mereka, anggapan mereka salah!

Penderitaan, lebih parah cara yang sama dan lebih brutal lebih modern ditempuh oleh bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis dengan menyerang kerajaan Samudra Pasai walaupun akhirnya terlempar ke daerah timur tenggara Nusantara. Dominasi VOC perusahaan dagang asal Hindia Belanda menjadi penyebabnya. Kerajaan Britania Raya-pun tertarik untuk menaklukkan Nusantara diantaranya yang terkenal Sir Thomas Stamford Raffles. Tak dapat dipungkiri cara-cara penaklukan suatu wilayah masa itu memercikkan kebencian amarah perang dan penderitaan.

300 tahun penguasaan Nusantara oleh VOC menimbulkan banyak penderitaan bagi rakyat pribumi terlebih pihak kerajaan Belanda mengindikasikan korupsi dan tidak tranparannya keuangan VOC. Maka kendali dipindah tangankan ke pemerintah Hindia Belanda. Pada masa ini kaum pribumi dari kaum ningrat atau bangsawan dirangkul untuk juga bekerja di pemerintahan Hindia Belanda. Pada dasarnya pemerintah kala itu bertujuan penaklukan tanpa kekerasan karena biaya perang di masa VOC sangatlah besar.

Diperbolehkannya anak ningrat bersekolah di sekolah pemerintah dan dibentuknya tentara pribumi KNIL bertujuan loyality atau kesetiaan secara de facto dan de jure. Sebenarnya tetap saja hasil bumi Nusantara dikeruk habis-habisan melewati putra-putra Nusantara ini tanpa disadari, mereka digaji dengan gaji pas-pasan.

Dimasa mudanya kakek buyut saya umur belasan tahun juga ditugaskan ke Bengkulu disana disamping sebagai tentara KNIL juga untuk melindungi asset pemerintah Hindia Belanda. Pada akhirnya beliau tersadar bahwa meriam yang diarahkan itu untuk melukai orang pribumi. Maka beliapun memutuskan pulang dengan melarikan diri ke Jawa Tengah. Putra-putra Nusantara yang bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda ibarat boneka hidup.

Tadi membahas masalah politik dan militer sekarang kita tengok dari sisi ekonomi. Baik VOC maupun pemerintah Hindia Belanda bekerjasama dengan para tuan tanah membatasi area penanaman sehingga kesempatan kerja di sector pertanian rendah sedangkan harga pangan tinggi. Upah buruh pertanian sangatlah rendah dibanding dengan upah buruh pabrik gula. Artinya kemandirian pangan ditekan sedemikian rupa upaya. Hasil bumi dari para tuan tanah dibeli dengan harga tinggi disatu sisi mengakibatkan gap social yang tinggi pula.

Untuk melemahkan eksistensi para tuan tanah baik masa VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda, mereka berupaya dengan memasukkan kenikmatan sesaat sebagai bagian dari rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi. Kenikmatan sesaat itu didapatkan dengan molimo yakni main/judi, medok/wanita, madat/narkoba, minum/arak, macak/foya-foya. Bagian yang terparah madat memakai narkoba jenis opium. Untuk dapat menempati area perkotaan etnis tionghoa diperbolehkan menjual opium untuk para tuan tanah dengan membayar upeti ke VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda sangat besar. Mental orang pribumi benar-benar dihancurkan, baca “The Forgotten Gold” semuanya menderita.
Ingat kesetiaan tinggi pada pemerintah dan mentalitas masyarakat rendah dua kunci untuk penaklukan tanpa kekerasan. Beberapa putra pribumi menolak dengan caranya masing-masing.

 

Kekayaan kerajaan Nusantara diangkut secara besar-besaran ke negeri Belanda, harta karun Nusantara ini dinikmati oleh sebagian Negara, sedangkan sebagai penerus bangsa ini kita tidak tahu konspirasi dibaliknya.

Kemenangan Nipon atas Rusia membangkitkan hegemoni kekaisaran Nipon. Kesetiaan dan mentalitas bukanlah suatu yang mudah dipegang. Ingat tentara KNIL buatan pemerintah Hindia Belanda lari tunggang langgang dari tentara Nipon dan putra-putra kaum bangsawan telah tercuci untuk mengabdi setia pada pemerintahan Hindia Belanda tidak mampu berbuat banyak menghadapi serbuan tentara Nipon. Penderitaan rakyat keseluruhan merana menderita 350 tahun sama menderitanya dengan 3,5 tahun pendudukan Nipon.

Hal berbeda ditunjukan oleh putra-putra Nusantara yang menolak doktrin propaganda para penjajah salah satunya Soekarno. Di tangan para pegiat anti doktrin propaganda –isme inilah suatu bangsa yang dicita-citakan Mahapatih Gajah Mada terbentuk. Sebenarnya jika masalah kemapanan hidup bagi Soekarno adalah mudah sebab beliau adalah keturunan Keraton Kasunanan Solo yang oleh pemerintahan kolonial belanda diburu untuk dibunuh dan untuk menghilangkan jejak garis keturunan maka beliau diangkat oleh Raden Sukemi Sosrodihardjo menjadi anak kedua dari akhir, sebagai putera golongan ningrat atau bangsawan adalah mudah untuk menduduki jabatan-jabatan di pemerintahan kolonial. Walaupun demikian tak ada gading yang tak retak ketidaktahuan, kepentingan-kepentingan menjadi sumber bencana. Orang yang telah mati dicukupkan atasnya rizki sesuai takdirnya dan tak perlu diungkit benar salahnya.

Modalnya apa? Tanpa disadari SDM berupa mimpi, cita-cita, hasrat, kehendak, kebebasan berpikir-bertindak, SDA yang melimpah tersedia untuk meng-kreasikan suatu konsep-model bangsa impian Mahapatih Gajah Mada. Impian dari kita untuk kita dikerjakan sesuai arah tujuan yang sama dalam kesatuan tindakan akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar, nasib kita saudara sebangsa kita tentukan dan capai bersama, bentuk geng Indonesia. Disaat Anda membaca artikel ini Anda tanpa disadari membuat diri Anda bagian dari bangsa besar ini.

Gajah_Mada

Mahapatih Gajah Mada

Soekarno-Hatta

Generasi Penerus Amukti Palapa

FUTURE

“Bangsa besar terlahir dari masyarakatnya yang memahami asal-muasal sejarah leluhurnya” dan “kuda tidak akan jatuh pada lobang yang sama”.

Pertanyaannya apakah bangsa yang terlahir dengan nama Indonesia ini akan menuju bangsa besar? Jawaban yang lebih tepat, naïf namun tetap berpeluang. Tetap berpeluang asal paham dan diimplementasikan secara nyata dalam tiap sendi kehidupan, diharapkan tidak jatuh pada lobang yang sama.

Motif penaklukan oleh bangsa Eropa berupa ekonomi, menjadi dasar kuat untuk mereka merubah nasib juga dikarenakan ketertarikan pada kemakmuran bangsa-bangsa Asia di kala itu. Rupanya tidak sekedar merubah nasib demi hasrat nafsu mereka mulai menumpuk harta benda yang bisa didapat dari daerah jajahannya, sejarah kuno penaklukan bangsa troya oleh yunani kuno menjadi bukti. Sampai sekarangpun masih dikenal dengan bangsa penumpuk harta.

Ekonomi merupakan syarat utama suatu bangsa menjadi besar, ekonomi dunia saat ini dipegang oleh beberapa Negara dengan kekuatan ekonominya. Apakah Indonesia termasuk didalamnya? Ya Betul tapi bukan yang terbaik.

Bagi seorang dokter dengan penghasilan Rp 10 juta per bulan tidak masalah jika harga pokok pangan sehari-hari Rp 10 ribu per-kg. Berbeda halnya dengan buruh cuci pakaian dengan penghasilan total keluarga Rp 700 ribu per bulannya. Ini masalah besar yang harus kita selesaikan. Tiap masalah yang dibicarakan bukan masalahnya akan tetapi solusinya. Bagaimana meng-kreasikan bahan pokok standar yang mampu terbeli oleh keluarga buruh cuci dengan dua orang anaknya. Ingat bukan masalah tapi solusinya, orang kita seringkali berkutat dengan satu masalah berkepanjangan kebanyakan hanya omong kosong belaka. Masalah yang satu ini menimbulkan sub-sub masalah yang juga pelik untuk diselesaikan bahkan dilematis, seperti kesejahteraan petani, pedagang, retailer sampai di tangan konsumen, lihat di Sukses Tani Organik. Intinya tidak akan pernah ada kata seimbang namun yang terpenting dari hasil bumi sendiri untuk masyarakat Indonesia, terlebih kita mampu ekspor.

Pengusaha tahu tempe digiring untuk menggunakan kedelai impor asal USA, mereka sangat suka menggunakan produk impor ini karena murah ukuran seragam. Pengembangan produk kedelai di sana dilakukan dalam area yang luas dalam satu wilayah sehingga pengelolaan, control hama, pasca panen mudah dilakukan, berbeda dengan kontur wilayah di Indonesia, akan tetapi sama halnya jika konsep pembudidayaanya sama seperti masa tanam padi. Lagi dan lagi produk sendiri seharusnya lebih diutamakan daripada produk luar. Rubahlah pola pikir Anda sekalian persatuan pengusaha tahu-tempe, petani yang kalian kucilkan itu sebenarnya mau asalkan Anda membeli di bawah harga International, mengapa Anda tidak bekerjasama dan bergotong royong dengan mereka untuk menyediakan kedelai berkualitas, buat perusahaan inti plasma dengan memberdayakan mereka, sehingga kepala Anda tidak benturkan tembok acapkali dollar USA naik. Pemerintah cukup sebagai fasilitator, regulator, dan akselerator tercapainya kesepakatan-kesepakatan di sector ini, tidak perlu ambil pusing untuk melakukan importasi.

Sama halnya bagi para pengimpor daging sapi mengapa Anda tidak bekerjasama dengan peternak malah hanya membeli ternak sapi asal Australia. Semua bisa diatur semua pasti kaya jangan ada iri hati dan dengki.

Kapas anda impor disodorkan ke orang Indonesia rubahlah pola pikir Anda beli kapas dari petani inti plasma anda dengan harga pantas.
Minyak kelapa sawit oleh orang Eropa dianggap berbahaya. Mengapa ribut, anggap produk kita sehat dan bersih. Mereka itu hanya pendengki. Rubahlah pola pikir Anda dengan produk biodiesel yang murah dan terjangkau masyarakat keuntungan 50 sen jika 1 milyar liter berapa yang masuk ke rekening Anda. Dalam proses produksi cukup pada penyaringan pertama biodiesel dapat dibuat. Kita bukan bangsa penumpuk harta tetapi berpura-pura bangga sebagai bangsa Eropa, kembalilah, share-berbagilah.

Belajar dari krisis ekonomi 98’ saat impor menjadi tulang punggung perekonomian maka mulai sekarang rubahlah ekspor sebaai tulang punggung perekonomian. Pangan dan sandang kunci awal ekonomi untuk menjadi bangsa besar. Rubah pola pikir, bekerjasama, bergotong-royong semua pasti bahagia. Maka dapat disimpulkan kunci untuk menjadi bangsa besar kooperatif dan gotong-royong. Sedangkan sendi-sendi lainnya ikuti konsep dan raw model seperti yang dicontohkan. Huh, ini semua hanya teori dalam kondisi ideal kita berencana berusaha pasti nasib membawa ke arah yang terbaik masing-masing. Setelah pangan sandang sudah cukup lainnya mengikuti dengan sendirinya.

Ingat pola yang sama diterapkan oleh oknum baik dari luar dan dalam negeri seperti pada masa colonial dimana sudah pasti oknum tersebut mendapatkan keuntungan yang berlipat dari keringat bangsa Indonesia, namun di saat terjadi kelesuan ekonomi, keributan, huru-hara, oknum ini seakan kehilangan taringnya persis apa yang telah terjadi pada kaum pribumi baik dari kalangan ningrat maupun militer.

Masa depan dunia akan mengalami gejolak yang sangat mengerikan dimana nantinya harus memegang dua kekuatan sekaligus yakni pangan dan militer. Jika tidak ada persiapan negeri yang telah diperjuangkan ini akan seperti Majapahit tinggal namanya, dan itu pasti, sudah sunnatullah.

Bangsa ini dibuat pengkotakan di seluruh sendi-sendi kehidupan, disaat kekurangan sesuatu pada bagian tersebut teriak-teriak minta belas kasihan pemerintah, dilanjutkan oleh pemerintah dengan meninabobokkan masyarakat atau politik pencitraan importasi-pun dilakukan tanpa terbendung. Belajar dari USA “Apa Yang Bisa Anda Berikan Pada Negara Bukan Apa Yang Negara Berikan Untuk Anda” jadikan USA saingan sehat NKRI.

Bangsa terlahir dari suatu perasaan senasib sepenanggungan dengan berdirinya Indonesia 70 tahun di 2015 ini. Akan tetapi sampai kapan negara ini berada, waktu akan menjawab.

Salam hangat, Nusantara

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: